Bagaimana Landasan Hukum Ijarah dalam Islam ?

Penulis : Aura Bina Arivia
Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

BOGORIN.ID – Ijarah merupakan akad yang diperbolehkan atau mubah, hal tersebut berlandaskan atas dalil-dalil yang terdapat dala Al-Quran dan Hadist, sebagai berikut:

Dalil tentang kebolehan akad ijarah terdapat dalam Al-Quran surat Ath-Thalaq: 6
فَاِنْ اَرْضَعْنَ لَكُمْ فَاٰتُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّۚ

Artinya : “…‘Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya…”

Dalam ayat tersebut adalah terdapat ungkapan “berikanlah kepada mereka upahnya”, ungkapan tersebut menunjukan adanya jasa yang diberikan sehingga berkewajiban untuk membayar upah atas pekerjaan tersebut. Upah yang disebutkan dalam ayat ini, dapat mencakup semua jenis sewa-menyewa (ijarah).

Kebolehan melakukan akad ijarah didasarkan juga pada hadist, diantaranya hadist yang diriwayatkan dari Aisyah ra.

واستأجر النبي صلى الله علیھ و سلم وأبو بكر رجلا من بني الدیل ثم من بني عبد بن عبدي ھادیا خرتا الخرت الماھر بالھدیة

Artinya : “Nabi saw bersama Abu Bakar menyewa seorang penunjuk jalan yang mahir dari Bani al-Dail kemudian dari Bani ‘Abdu bin ‘Adi.” (HR Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa sewa-menyewa atau ijarah hukumnya boleh. Hal itu dapat dipahami dari hadis tersebut yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah menyewa seorang untuk memandu perjalanannya, kemudian beliau memberikan upahnya kepada penunjuk jalan yang memandu perjalanan beliau bersama Abu Bakar ra.

Secara yuridis, agar perjanjian ijarah (sewa menyewa) memiliki kekuatan hukum, maka perjanjian tersebut harus memenuhi rukun dan syarat agar akad atau transaksi yang dilakukan kedua belah pihak menjadi sah. Jumhur Ulama berpendapat bahwa rukun ijarah terdiri dari;

a. Pihak yang melakukan akad, yaitu mu’jir (pihak pemberi sewa) dan musta’jir Mengenal Ijarah (Sewa Menyewa) Dalam Islam. (*)

Tinggalkan Balasan