Bogorin.id – Memperingati Hari Cagar Biosfer Internasional yang diperingati setiap 3 November, Star Energy Geothermal (SEG) memperkuat komitmen konservasi melalui rencana restorasi 325 hektare hutan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Jawa Barat, selama periode 2026–2027.
Program tersebut direncanakan mencakup 225 hektare pada 2026 dan 100 hektare pada 2027, dengan target penanaman sekitar 120.000 pohon. Tiga Kelompok Tani Hutan (KTH) setempat akan dilibatkan dalam pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan pohon.
“Pengalaman operasi Salak selama 32 tahun menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan konservasi hutan. Komitmen restorasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab jangka panjang kami untuk menjaga dan memulihkan ekosistem,” ujar Laksmi Prasvita, Head of Social Investment and Communications Star Energy Geothermal.
Dari sekitar 10.000 hektare wilayah konsesi SEG di kawasan TNGHS, hanya 239 hektare atau sekitar 2,4 persen yang digunakan untuk fasilitas operasional panas bumi. Sejalan dengan jejak penggunaan lahan yang relatif kecil tersebut, SEG telah menjalankan program Green Corridor Initiative (GCI) untuk mendukung pemulihan habitat dan konektivitas hutan pada area seluas sekitar 275 hektare. Rencana restorasi tambahan 325 hektare pada 2026–2027 menjadi kelanjutan komitmen SEG dalam menjaga dan memulihkan ekosistem TNGHS.
Menjaga Rumah Macan Tutul Jawa
Pentingnya menjaga habitat Halimun–Salak diperkuat oleh hasil Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang dikoordinasikan Yayasan SINTAS Indonesia. Survei tersebut mengidentifikasi 51 individu macan tutul jawa, termasuk tiga anakan, di bentang alam Halimun–Salak.
Dr. Hariyo T. Wibisono, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, dalam pernyataannya mengenai hasil JWLS sebelumnya menekankan bahwa kelangsungan hidup macan tutul jawa dalam jangka panjang bergantung pada kualitas habitat, ketersediaan mangsa, konektivitas antarhabitat, serta pengelolaan berbagai tekanan terhadap kawasan.
Restorasi 325 hektare tersebut diarahkan untuk memulihkan lahan terdegradasi dan meningkatkan kualitas habitat. Keterlibatan kelompok tani hutan juga diharapkan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui kegiatan pemulihan ekosistem.
“Keberhasilan restorasi bukan sekadar berapa banyak pohon yang ditanam, tetapi apakah hutan benar-benar pulih dan masyarakat ikut memperoleh manfaat dari upaya menjaganya,” tutup Laksmi.














