BOGORIN.ID – Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto mengingatkan Dinas Pendidikan (Disdik) untuk memprioritaskan sekolah yang membutuhkan pengadaan meubelair dan rehabilitasi ruang kelas yang rusak.
Rudy mengakui, banyak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bogor yang perlu rehabilitasi dan juga perlu pengadaan alat penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), seperti bangku dan meja.
“Dengan banyaknya jumlah SD, SMP di Kabupaten Bogor, lalu ada sekolah yang ruang kelasnya rusak sudah di rehabilitasi, ada yang ruang kelasnya kurang sudah dibangun, ruang kelas baru meubelairnya emang belum terisi, lalu ada meubelair yang sudah waktunya untuk diganti,” ujar Rudy, Kamis 19 Oktober 2023.
Menurut Rudy, penambahan Ruang Kelas Baru (RKB), rehabilitasi kelas, hingga penambahan alat penunjang KBM tidak dapat dipenuhi seluruhnya dalam satu tahun penganggaran APBD.
“Maka tiap tahun kita anggarkan bertahap, rutin setiap tahun. Mudah mudahan pengalokasiannya betul-betul sesuai yang membutuhkan prioritas utama dulu,” paparnya.
Ia pun mengingatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor untuk lebih memprioritaskan sekolah-sekolah dengan kebutuhan mendesak.
“Karena kalau bicara soal kemampuan anggaran pada saat ini supaya tidak berulang-ulang kita menyiapkan SD dan SMP yang dibutuhkan, karena yang dibutuhkan hampir setengah APBD kita,” ucap Rudi.
“Makanya kita bertahap, tidak bisa kita cukupi semuanya sekaligus,” beber dia.
Beralaskan Lantai
Kondisi kekurangan ruang kelas dan meubelair memang masih kerap ditemui di Kabupaten Bogor. Salah satunya, di SDN Cidokom 2, Kecamatan Rumpin. Puluhan siswa/i kelas IV di sekoah itu terpaksa melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) menggunakan musola karena kekurangan ruang kelas.
Puluhan siswa pun terpaksa belajar hanya dengan beralaskan lantai.
Wali Kelas 4B SDN Cidokom 2, Mohamad Andriyana menjelaskan, pihaknya terpaksa melakukan KBM di musola dengan sistem meleseh tersebut lantaran kekurangan ruang kelas dan juga meubelair.
“Intinya ruang kelas kurang, meubelair juga sama kurang. Karena kebetulan jumlah kelas ideal itu di angka 12 kelas, cuma ada 7 yang terpakai. Ada kelas 4B menggunakan musola, dan kelas 6 menggunakan laboratorium,” ujarnya.
Andriyana menyebut, 7 ruang kelas ini tak mampu menampung keseluruhan murid yang memiliki jumlah mencapai 494 siswa.
“Bangunan ini sudah 2 tahun kurang lebih. Kebetulan tahun ajaran 2022/2023 ditempati kelas 5 setahun full. Karena jumlah muridnya paling sedikit. Kebetulan di TA 2023/2024, jumlah murid paling sedikit kelas 4B jumlahnya 34 siswa/i. Mau tidak mau saya yang menempati kelas ini, termasuk siswanya,” tambahnya.
Andriyana pun mengaku, kerap mendapatkan komplain dari wali murid karena melakukan KBM di lantai tanpa fasilitas penunjang, seperti meja dan bangku .
“Saya yakin orangtua ingin yang terbaik buat anaknya. Termasuk kondisi belajar, fasilitas anak,” kata Andriyana.
Ia pun menjelaskan, KBM tanpa bangku dan meja ini membuat anak didiknya kurang nyaman dalam belajar.
Andriyana pun berharap, pemerintah segera melanjutkan pembangun 3 kelas baru. Yang mana sebelumnya telah membangun 3 ruang kelas dengan konsep bangunan bertingkat.
“Harapan saya agar cepat dibangun lanjutan lantai 2, agar tahun ini dilanjut kembali. Kemudian berikut meubelairnya, jadi satu paket,” tambah dia.









