Bogorin.id – Berawal dari 15 ekor kambing, Kelompok Tani Cipicung di Desa Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, kini mengembangkan usaha pertanian dan peternakan secara terintegrasi.
Program yang dimulai pada 2025 bersama Star Energy Geothermal Salak Ltd. (Star Energy Geothermal) tersebut tak hanya menjadi sumber pendapatan tambahan bagi anggota kelompok. Kotoran kambing diolah menjadi pupuk organik dan kembali dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian.
Sementara kebutuhan pakan ternak dipenuhi secara mandiri melalui penanaman rumput dengan sistem tumpang sari di antara tanaman buah.
Hasilnya, hingga kini Kelompok Tani Cipicung telah memproduksi sekitar 3,4 ton pupuk organik padat. Dari sisi pengembangan ternak, tiga kambing betina telah berkembang biak dan menghasilkan empat ekor anakan.
Ketua Kelompok Tani Cipicung, Apri, mengatakan integrasi peternakan dengan pertanian membuat bantuan ternak yang diterima memberikan manfaat lebih luas bagi anggota.
“Bantuan ini sangat membantu kami karena kambing yang dipelihara tidak hanya dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan, tetapi kotorannya juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk lahan pertanian,” kata Apri.
Menurut dia, pola tersebut membuat sumber daya yang dimiliki kelompok dapat dimanfaatkan secara lebih optimal sekaligus berkelanjutan.
Dari Kebun Kembali ke Kebun
Kelompok Tani Cipicung memiliki sekitar 40 anggota yang aktif di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Mereka mengelola sejumlah komoditas, di antaranya jeruk, cengkeh, pala, dan pisang.
Pisang menjadi salah satu sumber pendapatan rutin anggota dengan siklus panen setiap 15 hari.
Dalam pola pertanian terintegrasi tersebut, rumput untuk pakan kambing ditanam dengan sistem tumpang sari di bawah tanaman buah. Dengan demikian, anggota dapat merawat tanaman sekaligus memperoleh pakan ternak saat beraktivitas di kebun.
Di sisi lain, kotoran kambing yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah justru diolah menjadi pupuk organik.
Sejak November 2025, sekitar 3,4 ton pupuk organik telah dihasilkan dan didistribusikan kepada anggota untuk digunakan kembali di lahan pertanian.
“Sekarang kami tidak hanya mendapatkan manfaat dari kambingnya, tetapi juga dari kotorannya yang bisa diolah menjadi pupuk. Pupuk ini kami gunakan kembali untuk tanaman anggota,” ujar Apri.
Pola tersebut membentuk siklus sederhana di tingkat kelompok. Kebun menyediakan pakan bagi ternak, ternak menghasilkan pupuk bagi kebun, sementara pertumbuhan populasi kambing membuka peluang pendapatan tambahan bagi anggota.
Dikelola Bersama
Pengelolaan peternakan dilakukan secara kolektif. Sedikitnya dua anggota kelompok bertugas setiap hari untuk merawat kambing.
Empat anakan kambing yang telah lahir juga direncanakan untuk dijual menjelang Idul Adha sebagai tambahan pendapatan kelompok.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha, Kelompok Tani Cipicung menerapkan mekanisme bagi hasil. Sebanyak 60 persen pendapatan dibagikan kepada anggota sebagai insentif, sedangkan 40 persen dikembalikan ke kas kelompok sebagai modal pengembangan usaha.
Kolaborasi Star Energy Geothermal dengan Kelompok Tani Cipicung diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan sumber penghidupan yang dapat dikelola secara mandiri.
Melalui pola tersebut, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama yang mengelola aset, mengembangkan usaha, serta menentukan pemanfaatan hasil ekonomi untuk memperkuat kelompok.
Apa yang bermula dari 15 ekor kambing kini berkembang menjadi ekosistem usaha sederhana yang saling terhubung: menghasilkan pendapatan, menyediakan pupuk organik, memanfaatkan sumber daya lokal, sekaligus menciptakan modal untuk pertumbuhan usaha berikutnya.








